Just another WordPress.com site

Tumpeng Robyong

171132_1robyong

Tumpeng robyong yaitu tumpeng yang digunakan untuk upacara dalam khitanan, hajatan, yang sifatnya bergembira atau suka cita. Tumpeng jenis ini memiliki ciri khas, yaitu di ujung atas tumpeng terdapat telur ayam utuh, terasi bakar, bawang merah utuh, dan cabai merah, kesemuanya ditusuk seperti satai menggunakan bilah dari bambu atau sujen. Di sekelikingnya ditancapi sayur-sayuran, sehingga terkesan meriah.

Dulu, tumpeng robyong disajikan untuk acara-acara besar, seperti musim panen, mengusir penyakit, atau meminta hujan. Kini, jenis tumpeng tersebut dipakai untuk acara siraman, upacara pernikahan atau pemberkatan, dan syukuran.
Biasanya, selain tumpeng besar, juga ada intuk-intuk atau tumpeng kecil yang mengelilingi tumpeng besar. Adapula tiga macam kembang, yakni mawar, melati, dan kenanga. Selain itu, bubur merah, putih, dan palang juga disajikan. Di puncak tumpeng, biasanya ditusukkan telur ayam, terasi, bawang merah

Sajen Tumpeng Robyong

Sajen ini diwujudkan dalam tumpeng (nasi putih yang dibuat bentuk kerucut) dililiti kacang panjang sudah masak melingkar sampai puncak tumpeng tetapi sudah tidak beraturan letaknya; di atas tumpeng berturut-turut dari bawah ke atas telur ayam masak yang masih ada kulitnya, trasi, bawang merah, dan lombok merah; di kanan kiri tumpeng terdapat sayur-sayuran dan lauk-pauk yang sudah masak dengan letak yang juga tidak beraturan. Macam sayur-sayuran antara lain: kacang panjang, wortel, kubis, daun so, kecambah, daun bayam, dan daun singkong). Macam lauk-pauk antara lain: tempe goreng, ayam goreng, ikan asin, dan telur ayam yang sudah masak. Tumpeng beserta perlengkapannya itu ditaruh di atas tampah yang sudah dialasi dengan daun pisang. Letak yang tidak beraturan dari segala isi tumpeng ini yang kemudian disebut tumpeng robyong.

Makna sajen kelima ini masih menggambarkan bayi yang baru lahir akan memulai kehidupan di dunia. Dalam menjalani kehidupannya nanti, tentu selalu ada pergulatan. Ini identik dengan hasil pemutaran gunung meru dalam lanjutan cerita samudra manthana di atas. Sesudah Dewa Siwa berhasil mengaduk tujuh lautan yang mengelilingi Gunung Meru, suasana sekitar gunung menjadi porak-poranda. Ini digambarkan dengan letak sayuran dan lauk pauk yang tidak teratur, campur-aduk jadi satu yang mengelilingi tumpeng. Sementara itu di atas gunung, terdapat jilatan api (disimbolkan lombok merah), racun kalakutha (disimbolkan dengan bawang merah), kotoran-kotoran dalam bumi (dinamakan lendhut blegedapa) yang menghalang-halangi munculnya air amerta sudah terangkat dari dasar bumi (disimbolkan dengan trasi), kemudian disusul di bawahnya dengan munculnya air amerta yang masih dalam wadah tempayan, dalam tradisi Jawa Kuno dinamakan sweta kamandalu (disimbolkan dengan telur matang berkulit). Munculnya air amerta (air kehidupan) ini sebagai simbol mulai munculnya kehidupan di dunia.

  1. Tumpeng
    1. Bahan Baku: 2 kg beras segala type (C-4, IR-64, Cisadane, Rajalele, dsb).
    2. Bumbu: -
    3. Cara Pengolahan: a) Diliwet: Beras dicuci dengan air bersih, kemudian dimasak dalam panci, ketel, atau kwali yang sudah diberi air. Orang modern bisa memasaknya dengan rice cooker. Setelah setengah matang, ditandai dengan airnya sudah habis, api dalam kompor atau tungku bisa dikecilkan. Selang 20-30 menit hingga nasi sudah matang dan diangkat untuk didinginkan. B) Ditanak (didang): Seperti diliwet, setelah setengah matang, nasi diangkat dari kompor atau tungku. Soblok, dandang, atau sejenisnya yang telah diberi air dipanaskan dalam api kompor atau tungku. Setelah kemrengseng (suara mendidih) nasi setengah matang yang ada di panci, kwali, atau ketel dimasukkan ke dalamnya. Tunggu 20-30 menit hingga matang dan diturunkan dari api.
    4. Cara Pembuatan Tumpeng: Buat kerucut yang terbuat dari daun pisang atau kertas minyak dengan tinggi sekitar 20-30 cm dan diameter sekitar 10-20 cm. Bisa juga menggunakan kukusan yang terbuat dari anyaman bambu. Masukkan nasi ke dalam cetakan dan padatkan agar tidak mudah pecah. Setelah selesai lepaskan nasi dari kerucutnya. Cara ini seperti saat membuat tumpeng bucalan, hanya saja bentuknya lebih besar. Sama seperti membuat tumpeng megana.
  2. Gudangan
    1. Bahan Baku: kacang panjang 1 ikat, kangkung 1 ikat, kecambah 0,25 kg, wortel 0,25 kg, kobis 0,25 kg, bayam 1 ikat, daun so 0,25 kg (bisa ditambah sayuran lainnya sesuai dengan situasi dan selera).
    2. Bumbu: -
    3. Cara Pengolahan: Semua sayuran dibersihkan dan dipotong-potong sesuai selera, kecuali kecambah dan beberapa buah kacang panjang diutuhkan. Kemudian semuanya dimasak satu persatu dengan air hingga matang kurang lebih 15 menit, asal jangan sampai lumat. Bisa juga dilakukan dengan cara ditanak (didang) dalam soblok secara bersamaan. Setelah matang, angkat dari kompor atau tungku. Semua sayuran ditempatkan dalam sebuah wadah agar dingin.
  3. Bumbu/Sambal Gudangan
    1. Bahan Baku: 1 butir kelapa setengah tua.
    2. Bumbu: Cabe rawit 5 buah, cabe merah 5 buah, daun bawang 1 siyung, seerat kencur panjang 2 cm, garam secukupnya, gula merah secukupnya.
    3. Cara Pengolahan: Kelapa dibersihkan dan diparut/dikukur sampai selesai. Semua bumbu dilembutkan, yang umum dengan layah, tetapi bisa juga dengan blender, setelah itu dicampur dengan kelapa parutan hingga rata. Masukkan dalam daun atau plastik lalu ditanak dalam soblok atau dandang hingga matang kurang lebih 15-30 menit. Cara ini bisa dilakukan bersamaan saat memanak nasi untuk tumpeng. Angkat setelah matang dan dinginkan.
  4. Lauk Pauk
    1. Telur ayam
      1. Bahan Baku: Telur ayam kampung 0,5 kg (jika memakai telur ayam ras, paling tidak sebutir telur di antaranya harus ayam kampung).
      2. Bumbu: garam secukupnya.
      3. Cara Pengolahan: Telur dimasak dalam panci atau tempat lainnya hingga mendidih. Campurkan sedikit garam ke dalamnya dan tunggu hingga matang kurang lebih 30 menit atau ditandai dengan telur sudah retak-retak. Angkat dari kompor dan dinginkan. Kulit telur dikelupas (kecuali disisakan sebutir) dan dicuci dengan air bersih. Jika yang dimasak telur ayam ras plus sebutir ayam kampung, maka sebutir ayam kampung yang disisakan untuk tidak dikupas.
    2. Tempe Goreng
      1. Bahan Baku: Tempe kedelai 10 bungkus (bisa juga tempe plastikan 3 buah kurang lebih 500 g).
      2. Bumbu: Bawang putih 3 siung, garam secukupnya, minyak goreng 0,5 liter.
      3. Cara Pengolahan: Tempe dikelupas dari bungkusnya. Apabila tempe plastikan maka diiris-iris sesuai dengan selera (sekitar 3×5 cm). Bawang putih dan garam dilembutkan dalam layah atau cowek. Ditambah sedikit air matang. Tempe dimasukkan dalam campuran bawang putih dan garam yang sudah diberi air. Panaskan minyak goreng dalam wajan di atas kompor atau tungku. Setelah mendidih goreng tempe hingga matang atau setelah berubah warna agak kecoklatan. Angkat tempe dari wajan dan tiriskan tempe hingga kering dari minyak. Ulangi cara yang sama beberapa kali hingga selesai.
    3. Daging Ayam
      1. Bahan Baku: daging ayam kampung/ras 1 kg. (Bisa utuh 1 ayam yang telah bersih, bisa membeli khusus daging paha, sayap, dada, atau lainnya sesuai selera).
      2. Bumbu: minyak goreng 0,5 liter, tumbar secukupnya, bawang 5 siung, garam secukupnya.
      3. Cara Pengolahan: Daging ayam dicuci bersih. Masukkan dalam panci atau tempat lainnya. Masak dalam tungku atau kompor hingga mendidih. Sambil menunggu ayam mendidih, lumatkan garam, bawang, dan tumbar. Kemudian masukkan dalam panci yang berisi ayam tadi setelah mendidih. Tunggu beberapa saat kurang lebih 30 menit atau setelah daging kelihatan sudah agak lunak. Angkat dari tungku dan gantikan wajan yang sudah dituangi minyak goreng. Setelah panas, masukkan beberapa potong ke dalamnya. Tunggu sampai matang atau ketika sudah berubah kecoklat-coklatan. Angkat dari wajan setelah matang dan tiriskan beberapa saat untuk mengeringkan daging dari minyak goreng. Ulangi beberapa kali hingga daging ayam habis.
    4. Lauk Pauk lainnya 
      Selain ketiga jenis lauk-pauk di atas, dapat dilengkapi lauk-pauk lainnya, misalnya krupuk krecek, tahu tempe bacem, kedelai hitam goreng, kacang tanah goreng, peyek kedelai, peyek gereh (ikan asin) dan sebagainya. Tentu saja disesuaikan dengan selera dan kondisi keuangan.

Cara Penyajian Sajen Tumpeng Robyong: Ambil tampah yang sudah diberi alas daun pisang. (Bisa pula dihias dengan kertas atau lainnya di tepi tampah sesuai dengan selera). Tumpeng yang sudah dicetak diletakkan di tengah-tengah tampah. Letakkan secara hati-hati agar tidak pecah dan terpotong. Di kanan kiri tumpeng secara melingkar boleh diberi nasi secara merata hingga memenuhi tampah (dengan ketebalan sekitar 2-4 cm). Hal ini dengan maksud jika nanti sajen ini akan dibagikan kepada yang ikut kenduri bisa merata semua mendapat bagian. Selanjutnya di kanan kiri tumpeng tadi, jadi menutup nasi yang merata, diberi gudangan secara melingkar secara acak tidak beraturan hingga menutup semua nasi yang di bawah tumpeng. Bumbu gudangan bisa diletakkan beberapa tempat secara melingkar di kaki tumpeng dan di atas gudangan yang telah diletakkan secara tidak beraturan tadi. Kemudian lauk-pauk juga diletakkan secara acak di sela-sela gudangan dekat dengan bumbu gudangan. Beberapa buah kacang panjang yang utuh dililitkan pada tumpeng dari ujung atas ke bawah hanya saja susunannya juga sudah tidak teratur secara melingkar. Kemudian sebuah lombok/cabe merah bersama-sama dengan bawang merah, seerat trasi, dan sebutir telur ayam kampung matang paling bawah ditusuk lidi lalu ditancabkan di pucuk tumpeng. Maka sajen tumpeng robyong telah selesai dan siap untuk disajikan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.